📜 Soekiman Wirjosandjojo: Pencetus Awal Tradisi THR di Indonesia

← Kembali ke Proyek


Soekiman Wirjosandjojo
Soekiman Wirjosandjojo, Perdana Menteri Indonesia ke-6 (1951–1952). Sumber: Arsip Nasional

🍃 Tahukah kamu?

Tradisi Tunjangan Hari Raya (THR) yang setiap tahun dinanti masyarakat Indonesia berakar dari kebijakan sederhana yang lahir di masa Perdana Menteri Soekiman Wirjosandjojo pada awal 1950-an.

📖 Latar Belakang Sosok

Soekiman Wirjosandjojo lahir di Yogyakarta pada tahun 1898. Ia dikenal sebagai tokoh politik yang berpengaruh, pendiri sekaligus ketua umum pertama Partai Masyumi, dan menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia ke-6 pada periode 1951–1952. Pada masa pemerintahannya, kondisi ekonomi Indonesia masih rapuh. Inflasi tinggi dan kesejahteraan pegawai negeri menjadi perhatian utama.

🏦 Lahirnya "Persekot Hari Raya"

Dalam situasi tersebut, Soekiman memperkenalkan kebijakan yang disebut “Persekot Hari Raya.” Kebijakan ini berupa uang muka gaji yang diberikan kepada pegawai negeri menjelang Lebaran. Tujuannya sederhana: membantu mereka memenuhi kebutuhan hari raya bersama keluarga. Meski tampak kecil, kebijakan ini memiliki dampak sosial yang besar. Lebaran adalah momen penting bagi masyarakat Indonesia, dan dengan adanya tunjangan ini, pegawai negeri dapat merayakan hari raya dengan lebih layak.

📈 Perkembangan Menjadi THR Nasional

Seiring berjalannya waktu, kebijakan “Persekot Hari Raya” berkembang menjadi tradisi nasional yang kita kenal sebagai Tunjangan Hari Raya (THR). Awalnya hanya berlaku untuk pegawai negeri, tetapi kemudian meluas ke sektor swasta. Hubungan antara pengusaha dan karyawan ikut membentuk budaya baru: setiap menjelang hari raya keagamaan, pekerja berhak mendapatkan tunjangan tambahan. Tradisi ini akhirnya diatur secara resmi dalam peraturan pemerintah, menjadikan THR sebagai hak pekerja yang wajib dipenuhi.

✍️ Kesimpulan: Soekiman Wirjosandjojo dikenang sebagai tokoh yang meletakkan dasar tradisi tunjangan hari raya di Indonesia. Kebijakan “Persekot Hari Raya” yang ia cetuskan pada awal 1950-an kini berkembang menjadi sistem THR modern yang memperkuat ikatan sosial dan memberi kebahagiaan bagi jutaan keluarga setiap menjelang hari raya. THR bukan sekadar tunjangan, tetapi juga warisan sejarah yang lahir dari kepedulian seorang pemimpin terhadap rakyatnya.

Jika kalian menyukai konten sejarah ini, silakan bagikan. Dan sampai jumpa di pembahasan selanjutnya! 👋👋


← Kembali ke Proyek